Eigenlicht…… Ich vermisse euch sehr (Actually, I miss you so much)
Dalam beberapa
minggu ini, aku sering mendengar pertanyaan favorit: “Hi Henny, kapan kamu tinggalkan Jogja??”
“Hm…., ntah lah. Paling lambat pertengahan
Desember deh,” jawabku ragu. Sambil berpikir, tanggal berapa ya????? Yang pasti harus setelah kelas selesai dunk.
Aber wann?
Ga kerasa, hari
ini (Minggu, 9 Desember 2007, red) udah weekend terakhirku di Jogja. Ehem…..,
pdhal kalo ingat lebih dari setengah tahun yang lalu, aku benar2 looked forward
mo exchange ke Jogja. Dg hati harap-harap cemas, takut culture shock di negeri
sendiri. Ga rame banget kan.
As you can read
dlm posting-ku sebelumnya My New Place... & My Beautiful Room. Aku cukup enjoy tinggal di Jogja. I set my
mind bahwa Jogja adalah salah satu persinggahanku, kali ini singgah beberapa
bulan. Aku ga menata kamar, beneran kayak kamar yg baru diisi. Dekorasi dikit
denk, kupu2 lucu bertebaran di gorden kamarku.
Last Thursday,
ortu ku memutuskan tidak datang ke Jogja tuk main & sekalian menjemputku.
OK, aku harus putuskan kapan & naik apa aku pulang Bogor. Naik kereta deh,
biar ga ada batas berapa kilo bawa barangnya. Setelah beli tiket, hatiku kok
jadi sedih ya…… Ih, aku beli tiket buat
pindah, buat tinggalkan Jogja.
Hm, one side hatiku senang krn bisa kumpul
ma keluarga before ich fliege nach Koeln zurück (aku terbang balik ke Cologne,
red). Next story, bakal ketemu meinen Mann (misoa, red) deh. Other side, sedih
juga tinggalkan Jogja.
Ternyata, ga cuma aku, temen2 dari FH Koeln
lainnya jg agak berat tinggalkan jogja. Wah, kena pelet neh kayaknya.
Kalau diingat, ketika lepas SMA, ku pergi tinggalkan
kota Bogor & kuliah di Bandung. Aku pergi dengan penuh semangat, sementara
meninggalkan kedua orang tuaku dalam sunyi di rumah. I was so curious tentang
tempat baruku.
Lalu, setelah aku menghirupkan napas di
Bandung selama 10.5 tahun, kembali aku pergi tinggalkan Bandung, meninggalkan
sedikit sedih pada mereka yang dekat denganku. “Cie…, gimana ya aku nanti kalo cie Hen dah ga disini…….” Aku masih
mampu menghiburnya hingga saat-saat terakhir. Aku tak menangis ketika
kutinggalkan setiap sudut kota Bandung yang telah menyaksikan ku tertawa &
menangis. Duh….., dramatisir kale.
Tak lama setelah itu, seluruh keluargaku
melepasku di bandara. Ketika kuinjakkan kaki di pesawat, aku tak tahu kapan
akan kembali lagi ke tanah air. Tapi….aku masih tegar, tak setetes air matapun
keluar, meski mama tersedu dalam pelukanku. Well, sedikit sedih ketika
kaki-kaki pesawat meninggalkan tanah Jakarta.
Aku telah mampu begitu tegar dengan berbagai
perpisahan besar, ketika pergi terpisahkan orang-orang yang kusayangi dan yg
menyayangi aku, meninggalkan mereka yang tinggal bersamaku sekian lama. Tapi
kenapa saat ku akan tinggalkan Jogja, yg baru kuinjak beberapa bulan saja, aku
merasa berat & hampir tak mampu hibur diriku sendiri, tak mampu membesarkan
hatiku sendiri. Hari ini, aku sendu……….
Tak ada kisah cinta di Jogja, tak ada sanak
keluarga di sana, tak akan ada mata berkaca-kaca yang akan mengantarku pergi hingga
kereta……. Tapi kenapa aku telah merindukan Jogja meski belum lagi kupergi. Warum
vermisse ich euch schon?
Mungkinkah
karena masih ada janji tersisa, mungkinkah masih ada tugas yg tak selesai
disana (iya juga denk, 1 big paper, hehehehe), mungkinkah ada tanya yang belum terjawab, mungkinkah karena kutahu, jika
aku pergi dengan kereta itu, ntah kapan aku kan kembali lagi. Aku tahu, disaat
kukembali suatu saat nanti, mereka yang telah menemaniku selama ini di Jogja,
tak kan lagi ada di sana. Ga tahu deh, I can’t figure it out…… Ich weiss nicht,
wirklich!
Akhirnya, kuputuskan tuk ungkapkan rasa
terima kasihku untuk mereka yang telah berjasa padaku.
(Ini
dibaca dg gaya org baru terima Oscar gitu deh……)
Thanks for all of you in Jogja, yang udah
bantu cariin kost, bawa jalan keliling, dll. Buat temen di MM, for a beautiful sunset chatting in library, only the two
of us…….(ups ma sapa neh???), for cheers, crazy moment, and for
eating…eating….and eating…... Also in Pogung
Baru, kost anak2 lemot, kasihan Klara, yg ga lemot cuman aku & Klara,
skg aku pindah, ntah mau jadi apa kost itu. Buat yg di Wisma (emang siapa ya yg anak Wisma tp bukan anak MM, hehehehe),
especially Olland & friends. Thanks buat yg dah pinjamin bukunya, sorry
Dit, ga sempat balikin personally. Buat bapak kost yg baik hati menunggu dikala
aku pulang telat, tukang laundry, mamang becak, temen-temen yang suka antar
& jemput aku, buat supir & kenek bis, buat segerombolan pencopet yg
pernah coba ambil HP butut & dompetku, buat everybody yg tak dapat
kusebutkan namanya satu per satu…….
OK, time to reflect! About life, about
sufferings, about impermanent, about many things. All about Guru’s teachings of
course. If I could not overcome this sadness from separation that’s happening now,
how could I say to my self that I would be OK and won’t be sad whenever I’m
separated from my body. That means: separated from my whole family, my friends,
my belonging, my comfort environment. Wake up Henny, you are not ready for it.
So, it’s time to practice Dhamma!

Comments