« June 2007 | Main | December 2007 »

I’ll do everything because I love you, and me, and….myself

Oh Donna ku sayang, kecantikanmu membuatku mabuk kepayang. Sungguh…… Aku akan setia padamu hingga akhir hayatku…. (asal kau juga setia padaku).

 

Donna-ku sayang, aku akan jaga dirimu dalam keadaan apapun. Aku bersedia melakukan apapun demi keselamatanmu. Karena keselamatanmu adalah kebahagiaanku juga.

 

Donna-ku sayang meski aku sedikit possesive, tapi kulakukan semua itu demi dirimu, demi kebaikan dirimu. Agar kamu hidup bahagia & berhasil, keberhasilanmu adalah kebahagiaanku juga.

 

Donna-ku sayang, aku benar-benar cinta padamu, sungguh..... karena engkau adalah sumber inspirasiku, sumber kebahagiaanku.........

 

Tidak salah jika manusia menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Tinggal bagaimana cara yang ditempuh untuk meraihnya. Sering kali kita mengatasnamakan cinta dalam melakukan sesuatu, apakah itu cinta antara anak & orang tua, antar kekasih, suami-istri, atau sahabat karib. Namun, pernahkah kita tanya pada diri sendiri, mengapa kita melakukannya? Apa benar-benar karena cinta yang murni & tanpa pamrih? Ataukah justru karena kita mencintai kebahagiaan diri sendiri semata?

 

Benarkah kita berbahagia atas keselamatan, kebahagiaan, kesuksesan dia? Ataukah berbahagia karena jika dia selamat kita tak perlu berhadapan dengan urusan yang merepotkan, kalau dia berhasil kita kecipratan hidup senang, kalau dia bahagia aku puas…..

 

Bagaimana jika dia tak menerima kebaikan hati kita tuk melindunginya, saat dia tak menuruti nasihatku, dll, akankah kita menjadi marah & kecewa karena telah gagal menjadi “pahlawan” baginya? Jika ia menerima kebaikan orang lain & dia bahagia, akankah kita ikut berbahagia?

 

Cinta yang tulus & tanpa pamrih, tak akan mengharapkan imbal balik, tak berharap bayaran. Melalui perantara diri kita atau orang lain, sepanjang orang itu hidup bahagia dan memperoleh sebab-sebabnya, jauh dari penderitaan dan sebab-sebabnya, seharusnya kita ikut berbahagia. Tidak hanya untuk mereka yang dekat dengan diri kita atau baik pada kita saja, tetapi juga untuk yang lainnya tanpa batas.

 

Maka, “rejoice” atau “ber-mudita” atas kebahagiaan orang lain akan benar-benar bermakna.

                            

Do I fall in love?

Jam satu dini hari, mata belum juga lelah menatap monitor komputer. Malam terasa sepi meski dengan setumpuk buku di mejaku. „Jangan tidur dulu sayangku, aku masih harus menyelesaikan tugas,“ bisikku pada diri sendiri. Kupasang earphone & putar lagu2 lama tuk menepis lelahku.

Alunan lagu membawa hatiku melayang jauh ke seseorang yang nun jauh disana. Membawaku jauh ke suatu masa......... Ketika itu, aku tak memberanikan diri menantang segala tantangan tuk mendekatinya. Kini, aku sangat merindukan dia & saat-saat itu. Lagu-lagu ini membawa semua kenangan itu, membawa bayangan dirimu yang waktu itu.

Aku tahu, kamu saat ini pasti telah berubah, tak lagi seperti dulu. Tapi aku tak mau merubah bayangan dirimu yang kusimpan dalam ingatanku.

Wajahmu masih yang dulu, seakan hadir senada dengan alunan melodi ditelingaku. Setiap habis satu lagu, kau pergi dari bayanganku & itu membuatku sedih. Hatiku segera menanti lagu berikut dengan penuh harap. Dan saat lagu mengalun lagi, kau hadir kembali. Duh, aku benar-benar ingin menyapamu, bercerita banyak denganmu, memelukmu erat, meski dalam bayanganku......... Kubertanya pada diriku sendiri, adakah cara kuraih dirimu?

Jika kau dengar kisah lamunanku ini, akankah kau tau bahwa dirimu lah yang kumaksud........ Akankah kau sapa aku?

Oh kesunyian, apakah aku jatuh cinta padanya waktu itu? Ataukah hanya lagu-lagu ini yang membuai diriku kembali pada kenangan masa lampau? Ataukah......., aku kini jatuh cinta pada bayangannya yang ada dalam anganku?

Kusadar, semakin kucari bayanganmu, semakin aku menderita dibuatnya. Semakin kukejar dirimu, semakin aku kehilangan bahagia yang kuharap. Aku tahu sayangku, aku tahu...... Tapi buaian lagu ini tak berhenti terlantun ditelingaku dan aku pun tak mau menghentikannya. Ku tahu sayang, aku tahu...............

Aku pun tahu persis, jika saja kuberanikan diri tuk menghentikan lagu-lagu ini, maka semua bayangan itu akan hilang. Aku tahu..... Tapi kebodohan telah menghentikan tanganku tuk melakukannya. Bodohnya........ bodohnya.....bodohnya..... Haruskah kulewati lagi satu malam ini bersama kebodohanku?????

Itulah hidup kita sesungguhnya. Bayangan itu bagai kebahagiaan duniawi yang tak bisa dipegang. Disaat kita terlena & berusaha memegang kebahagiaan seperti itu, maka keadaannya sama persis dengan berusaha menghilangkan dahaga dengan air garam.

Sedangkan lagu itu bagaikan kilesa yang menutupi batin kita.

Satu malam yang terlewati bagaikan satu kehidupan sebagai manusia yang telah kita peroleh ini. Akankah kita biarkan hidup ini berlalu begitu saja seperti malam yang terlewati untuk terbuai kebodohan? Padahal kehidupan kita sebagai manusia ini adalah sangat berharga dan terberkahi, kita memiliki kemampuan untuk menghentikan buaian lagu itu yang memancing segala lamunan. Sama seperti kilesa manusia, keserakahan-kebencian-kebodohan batin, yang merupakan akar ketidakbahagiaan, dapat kita hentikan. Kita tahu itu, namun tetap saja tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya.