« September 2006 | Main | December 2006 »

Share tentang Kematian

Wah, aku dah tunda sekian lama tuk bikin posting ini, idenya dah melayang kemana2.

Mungkin bbrp dari teman-teman yg dah pernah baca blog sebelumnya dg judul “Kematian” (Posting tgl 15 September 2006), sempat terlintas dalam pikiran bahwa benar-benar kematian itu pasti bakal datang & waktu nya tidak pasti. Lalu sekarang apa yg harus dilakukan??

Thanks buat yg udah share ttg cara mempersiapkan diri menghadapi kematian. Skg aku mau bagi sedikit dari pelajaran yg kudapat, dari sudut pandang Buddhis. Aku akan berusaha menyisipkan sedikit padanan untuk penerapannya buat yg agama lain. Semoga bermanfaat.

1. Bagaimana jika kematian itu datang?

Hindari pikiran buruk!!!!!! Misalnya: kebencian, kemarahan, kemelekatan. 

Bayangkan, jika saat ini kita benar2 mendekati kematian, pikiran apa yang muncul? Rasa takut? Kemelekatan karena tidak mau berpisah dg orang2 yg kita cintai, dg barang2 kesayangan, dsb? Atau karena org2 menangis & teriak2 disekitar kita, mengganggu ketenangan kita, sehingga muncul kemarahan?

Jika salah satu pikiran tersebut muncul dalam batin kita disaat menjelang kematian, maka kondisi tersebut akan menyebabkan kita terlahir di alam rendah, neraka misalnya.

Sebaliknya jika muncul pikiran bajik, seperti cinta kasih, membayangkan objek2 suci (Kristiani: Jesus, Buddhis: Buddha, dst), atau muncul keyakinan mendalam terhadap Triratna bagi Buddhis, atau Allah bagi umat Islam (dg penuh pengertian ttg sifat2 mulia-Nya), maka kondisi tersebut akan menyebabkan kita memperoleh kelahiran di alam yg tinggi, surga misalnya.

Bagaimana agar pikiran bajik itu dpt dengan mudah muncul? Tentunya dengan melatihnya selama hidup kita ini. Banyak metode yg diajarkan oleh masing-masing ajaran, misalnya dg mengulang nama Buddha atau nama Allah (membiasakan mengumandangkan puji-pujian dalam batin). Dalam ajaran Buddha, banyak metode praktis untuk hal tersebut, tp aku ga cerita banyak disini. Ntar jadi se-buku, hehehehe.

Jangan lupa bahwa perbuatan-perbuatan kita selama ini juga menjadi modal, bentuk kehidupan seperti apakah yg akan kita peroleh dimasa yad. Bagi yg sudah mengenal hukum karma & kelahiran kembali, mungkin hal ini sdh jelas.

 

  1. Apa yg akan terjadi saat menjelang mati? 

Disebutkan dalam sutra-sutra Buddhis bahwa seseorang akan mengalami penguraian unsur2 dalam tubuhnya. Empat unsur utama yang membentuk tubuh manusia: unsur padat, cair, gas/udara, dan panas. Aku ga bahas detail disini ye.

Ini share dikit, dulu aku suka pergi ke tempat org meninggal tuk baca doa, baik itu yg baru aja meninggal, yg mau tutup peti, ato ke tempat pemakaman. Suatu ketika, ada 1 org yg tubuhnya gendut & Bhante (panggilan untuk Bhikku) segera meminta petinya diisi lbh banyak kertas2… (lupa namanya, itu lho yg tradisi org cina itu). Lalu beliau menjelaskan dg cara yg luwes kepada keluarganya, ya singkatnya sih, mayat tsb kan sedang dalam proses terurai, org tsb tubuhnya gemuk & sangat banyak mengandung cairan, jd butuh kertas2 itu tuk menyerap air yg terurai. Sambil nunggu peti ditutup. Wkt itu, beliau sempat ajak aku & temanku tuk mengamati, tubuhnya mulai menggembung, dll. 

Selama proses tersebut, kita akan menghadapi berbagai pengalaman batin, menjadi sensitif akan suara, & disaat kita menyadari bahwa kita sedang memasuki proses kematian, disaat itu jangan biarkan pikiran takut menguasai kita. Segeralah memunculkan pikiran bajik seperti disebutkan di atas.

Semua itu proses yg normal, semua org akan mengalaminya. Kita perlu menyadari hal itu. Sehingga disaat kita terpisah dari tubuh ini, kita dapat menghadapinya dg sukses. 

3. Apa yg seharusnya dilakukan untuk menolong mereka yg sedang dalam proses kematian?

Mengingat, seseorang yg dalam proses kematian mengalami berbagai kesulitan karena dihadapkan oleh ilusi batinnya sendiri serta proses kematian yg membingungkan, maka kita harus menciptakan kondisi mendukung agar ia bisa melaluinya dg baik.

Pertama, jika kita mendampingi org yg meninggal, kita sendiri harus memunculkan pikiran bajik, bebaskan dari pikiran yang egois & untuk mencari keuntungan/kepentingan pribadi. 

Kedua, jauhkan objek2 yg dapat menimbulkan perasaan kemelekatan. Contohnya: barang kesayangannya ato org yg sangat disayangi. Kenapa? Krn disaat ia menyadari bhw ia akan meninggal & akan terpisah dg objek2 tersebut, kemungkinan besar akan muncul kemelekatan & ini berbahaya buat org tsb.

Ketiga, jauhkan objek2 yg dapat menimbulkan kebencian. Contohnya, barang ato org yg sangat dibenci. Ini akan memancing pikiran benci muncul dlm batin org tersebut.

Keempat, letakkan objek2 mulia di dekat org tsb, contohnya gambar Buddha (bagi yg Buddhis, buat agama lain bisa disesuaikan, kitab suci misalnya). Objek seperti itu adalah objek mulia, maka tidak mungkin perasaan kemelekatan yg muncul, melainkan keyakinan. Jika kita tau praktik harian yg dilakukannya, kita bisa bacakan doa tsb di dekatnya.

Di dalam tradisi Tibetan, ada teks Buddhis yg biasanya dibacakan untuk membantu membimbing org yg meninggal. Step by step, agar org tersebut bisa melalui proses kematian dg sukses.

Namun demikian, kita harus menyesuaikan dg keyakinan org yg akan meninggal tersebut. Misalnya, 1 org yg non Buddhis sedang memasuki proses kematian. Trus, aku pasang gambar Buddha & bacain doa2 agama Buddha keras2 dekat dia. Meski itu semua seharusnya menjadi hal2 yg membangkitkan keyakinan (positif), krn org tersebut memiliki kepercayaan bukan Buddhis, bisa jadi malah memunculkan kesal di pikiran org tersebut. Artinya, bukannya menolong, malah mendorong org tsb untuk terlahir di alam rendah.

Kelima, Hindari kondisi yg hingar bingar, nangis teriak2 apalagi sampe goyang2in tubuhnya, kayak di pelem2 gituh …… (Pelem suka dramatisir seh, jangan kepengaruh ah.)

Intinya, jika kita tidak yakin mau melakukan apa untuk menolong org tersebut, minimal jangan bikin kondisi yg mengganggu. Itu sdh sangat menolong.

 

Semua yg aku share disini hanya gambaran kasar. Itu semua aku dapat dari berbagai sumber, sama sekali bukan realisasi yg telah kucapai. Tapi semoga ada sedikit manfaatnya.

“Kita semua pasti akan mati.”

Namun, sudahkah kita menunjukkan sikap bahwa kita menyadari hal itu? Apa yg telah kita lakukan untuk kepentingan di masa mendatang? Jadi, tunggu apa lagi, mulai saat ini, lakukanlah sesuatu untuk masa depan kita.

We put money aside to insure that when we retire we have a pension to live on. …… …… although we make all this preparation, we have strictly no idea whether we will ever need those we have prepared. We do not know whether we will reach that point in time, whether what we prepare will come true, will use what we have prepared for. …… But on the other hand, what is absolutely certain is that we have to die. …….Also on the other hand, very doubtful as when we will die. ……. It is completely unsure. With regard to absolutely sure about, another words our death, we do not make prepare. We do not prepare for what is certain that we will experience. And yet on the other hand we prepare for something that we are not sure to be of use. That is where lies our illogical, lack of logic.

(Kutipan dari ceramah Dagpo Rinpoche, Agustus 2006)

 

Disaat kita mati, tidak ada sesuatu yang bermanfaat selain praktik Dharma kita. (Kutipan dari buku “Liberation in Our Hands, part2: The Fundamentals”, halaman 130).

 

Semoga kita semua sekarang sudah siap jika kematian itu datang. Semoga semua makluk yg saat ini sedang dalam proses kematian, mereka dapat memunculkan pikiran bajik & terhindar dari kelahiran di alam rendah.