Kejarlah Daku, Kau Ku…….

Yup, sejak balik Jerman topiknya kejar2an. Ngejar apaan?

1. Ngejar daftar untuk thesis:

ketemu bagian adm di pertengahan Maret. Doi bilang, periode pendaftaran dah tutup, yang berikutnya masih bbrp bulan lagi. Supaya semester berikut ga usah bayar uang kuliah, harus colloquium sebelum pertengahan September, minta acc dari Prof untuk daftar di periode khusus. Hitung mundur, paling telat bulan Agustus skripsi dah masuk. Itung2, OK lah, bisa kukejar, meski sekarang aku dah ketinggalan kereta, aku pasang turbo tuk kejar ketinggalan.

Tugas selanjutnya……

2. Ngejar dosen:

Bbrp meeting tuk proyek thesis, aku ga bisa datang, banyak hal yang mau ditanya. Kejar dosen, tp lagi holiday. Please……, ada banyak pertanyaan neh sehubungan dg my group. Salah satu member-ku yg di US aktif banget, agak kewalahan juga krn aku belum sempat ngobrol dg si dosen.

Akhirnya, dia balik dari liburan & awal april bikin pertemuan. Sebuah kabar indah dari prof tercinta, topik yg sama, supaya ga usah bayar semester depan. Hitungan ga jauh beda dengan yang di atas, hanya sedikit tambahan, Sang prof. A bakal holiday bulan Agustus, jadi minta thesis masuk paling telat tgl 10 Juli.

Agak tulalit, ga sadar deadline tinggal 3 bulan. Yang laen ga keberatan karena sudah mulai search dari kemaren2. Sedangkan aku??? Lihat deh no. 3

3. Ngejar topik:

Sambil tunggu prof balik dari liburan, aku coba search info ttg produk yg dia kasih. Weks……, nix, ga ada, sudah banget, ga kira2. Masa sih aku harus turun ke jalan tuk interview & keluarin duit buat beli data statistic & info laen2nya?

One day, ketemu seorang temanku yang ga ambil projek Global Sourcing untuk thesis. Dia Cuma team manager aja untuk cut flowers. Kesimpulan dari obrolan ama dia, buat mereka ga masalah produk mana aja. Temanku yg lainnya dapat Pistachios, juga hanya team manager. Kling, ada ide, gimana kalo switch aja?

Mulai search dua produk tsb. Kayaknya lebih baik. Approach ke kedua org tsb. Cut flower menjawab dengan positif, tapi pistachios diem aja. Aku harus segera ambil keputusan & kirim email ke prof.

Jawaban Prof A: boleh2 aja, tp sebenernya aku ga suka kalo ada yg ganti2 produk di tengah projek kayak gini. Kecuali Anda punya alasan kuat. Kita bicara disaat meeting.

Sebelum meeting, aku susun baik2 alasanku, jangan sampe berbohong juga. Ga mungkin donk bilang: “Duh maaf pak, topic exotic live fish susah datanya. Cut flower kan lebih mending.” Gila apa ya?????

Singkatnya, aku dapat juga topik tersebut. Lega……..

Ternyata, member tuk kelompok ini agak2 pemalas. Mereka belum ngerjain apa2, product description aja belom. Weks, tugas berat buat mompa mereka. Jangan sampai kena masalah gara2 aku baru pindah neh.

4. Ngejar anak buah

Beda dengan tahun lalu, sekarang para dosen itu lebih reseh. Selain minta progress report tiap minggu, dia jg minta presentasi rutin. Kurang dari 2 minggu, anak buahku harus presentasi 2 bagian pertama.

Sebenernya, bagus apa jelek presentasi & Market Brief mereka tidak akan mempengaruhi nilaiku, apalagi hidupku, hehehehe. Tapi, kalo mereka ga bisa penuhi deadline apalagi ga siap presentasi, atau mereka salah arah, maka nilaiku jadi taruhannya. Agak aneh emang, tp ya gitu lah maunya si dosen. Memperdayagunakan kami untuk bantuin kerjaan dia dalam supervise mereka untuk ngerjain Market Brief.

Akhirnya, presentasi mereka bagus juga. Meskipun dibanding kelompok lain kerjaan mereka baru sedikit, tp they are on the right track. Bbrp kelompok lain harus bongkar2 dikit.

Mulai dari situ, aku masih kejar2 mereka dari deadline ke deadline.

5. Ngejar data

Tugas pertama dari Prof B, selembar overview tentang product & value chain. Ayo….., kerja keras. Emang Cuma 1-2 halaman, tp kan musti search info di internet.

Pertemuan pertama, aku bisa selesaikan permintaan sang dosen. Tetapi, rekan2 dari group lain bikin lebih komplit dari itu. Mereka malah sudah membahas trade in the industry beserta data statistik, lengkap dengan value chain. Mereka dah beneran bikin thesis. Sementara aku? Baru kenalan sama product. Sementara pak dosen lebih tahu banyak tentang bunga karena tante & sepupu dia punya toko bunga.

Dalam 2 minggu dari pertemuan itu, bakal ketemu lagi tuk bahas tentang value chain analysis. Gimana bisa bikin analisa kalo data belom lengkap? Ayo…., kejar data.

6. Ngejar farmers, importers, wholesalers, retailers...........

Some missing links dari data yg aku dapat tuk thesis. Mau ga mau, harus turun wawancara. Ide dari temenku, barter aja, mereka kasih kita data, nanti kita kasih mereka hasil research kita. Well, ga gampang! Kita dapat akses gratis ke ITC karena ada perjanjian, andai…..hasil kerja kita bagus maka hak mereka tuk publish & jual karya kita.

Konsultasi dg dosen, ada bbrp alternative: ga kasih thesis lengkap, pastikan org tersebut tidak akan perjual belikan info tersebut, ya…. 2-3 perusahaan yg pegang hasil penelitian kita ga akan violeting kerjasama dengan ITC deh.

Melegakan….. Tp organisasi yg bakal aku wawancarai rata2 organisasi komersil yg jualan info sejenis. Gimana dunk ya???

Setidaknya, aku mulai dari retailers deket rumah dulu deh.

Prof B punya kenalan farmers. Tapi wawancara harus pake bahasa Jerman. Gpp, yg penting si Prof bersedia menghubungi org itu tuk dikenalin ke aku. Horeeeeeee

Ini bagian yg paling penting:

Ayo, dibuka lowongan kerja, buat jadi Dolmetscher/in. Syarat: bisa basa basi dikit biar informasi ngalir lancar, lancar berbahasa jerman, juga musti pinter korek2 keterangan. Bayaran akan disesuaikan dengan jadwal wawancara & keterangan yg berhasil didapat. Hehehehehe.

Ato, kalo ada kenalan tukang bunga, mulai dari petaninya, agent, toko bunga, event organizer yg pake fresh cut flowers, apapun, boleh dunk dikenalin tuk wawancara.

7. Ngejar deadline edit

Yg ini sih, aku dengan senang hati melakukannya. Kalo boleh sih, aku kejar deadline edit buku Liberation aja, ga usah mikirin deadline thesis hehehehehe.

                            

Here I am

Perhatian buat Mbak Openg & Depong, jangan menjerit ya waktu kau baca kalimat pertamanya...... Kangen boleh, tapi jaim dikit donk, huehehehehehe.

Kisah panjang selama beberapa bulan ini. Ribet kalo diceritain semua. Singkat aja deh, my story writen in my favorite color:


Endlich, I'm back to Germany, after 2 1/2months waited for visa, then another half month looked for available flight, and some surprises on my last day in Indonesia.


Harusnya pesawat berangkat jam 16.15.
Sesaat sebelum meluncur dari rumah, kring..kring…kring…. HP ku berbunyi..... Karena kabut tebal di Abu Dhabi, flight ku ditunda jadi jam 23.00 baru bisa check in jam 19.00.

Sesaat aku & papaku sibuk menghubungi pihak terkait: kakakku yang bakal nyetir ke Jkt & orang-orang yang mau ketemu di bandara.

Temanku menghibur, tertunda beberapa jam apalah artinya ketibang pernantianku yg lebih panjang. OK, ga masalah. Mobil masuk garasi lagi, kami bisa istirahat dulu.

Beberapa jam kemudian, lagi asik santai2, telp dering lagi: Bu, flight ibu dipindah lagi, ditransfer ke SQ jam 20.05, check in jam 17.00.

Weleh....., ayo pasukan..... siap berangkat! Asik juga, naik SQ. Tapi...., apa masih bisa dapet 30Kg buat luggage?!

Sampe di airport, aku mengurus surat keterangan transfer ke SQ. Ada rumor ga bisa 30 kg, hiks…. Kerja keras ngepak barang bakal sia-sia neh.

Si Mas2 yang mendampingi aku baik juga, dia temanin aku ke counter SQ, tungguin ampe everything was OK. Orangnya ramah lagi….. Si mas yg di counter jg ramah, dengan anggukan & sebuah senyuman ramah dia jawab pertanyaanku ini: “Saya bisa bawa 30 Kg bagasi ga???” Huraaaaaaa

Dalam pesawat Jkt-Sing, 1 pramugara yg melayani bagianku jg ramah & baik sekali. Begitu pula dalam perjalanan Sing-Frankfurt. Ketika aku mencari tempat duduk, dia menawarkan bantuan tuk mengantarku ke tempat duduk & menyimpan semua tasku. Mungkin dia pikir, „Nih orang pasti ga sampe deh taro barang ke atas. Dari pada jok kotor karena nih orang naik2 dengan sepatu, mendingan dari awal aku bantuin aja……“ Ya, soalnya depan belakangku tuh bule semua, mereka kan ga perlu bantuan tuk taro tas2 mereka, hehehehe.

Tapi aku sempat terkejut juga waktu si pramugara ngajak ngobrol selama mengantri nunggu orang2 taro barang: „Mau ke Frankfurt tuk berlibur apa kerja??

Wah….., jarang-jarang nih aku dianggap cukup usia tuk jadi pekerja, hahahaha. Biasanya ditanya: sekolah dimana dek? 

Meski berangkat lebih lambat dari yang di jadwalkan ditambah sempat delay jg di Sing karena muatan di bagasi banyak, tp aku tiba di Frankfurt ga jauh beda dengan yang  dijadwalkan kalau aku ikut penerbangan yang jam 16.00 sebelumnya. Great!

Di Frankfurt, pesawat sudah berhenti, tp sang pilot minta penumpang bersabar karena security airport tidak mau membukakan pintu. Weks……, apaan lagi nih!?! 

Setelah pintu dibuka, kami berjalan turun dengan tertib. Semua crew melempar senyum ramah pada penumpang yang turun. Begitu lepas dari pesawat, jreng…jreng…jreng…., sederet Polizei alias polisi berbaris dengan wajah papan. Selamat datang di negeri bermuka papan!!!!!

Sempat bertanya di informasi, menanyakan arah ke platform tempat keretaku, dijawab dengan asal & muka datar, kesana trus belok kanan. Ehem….., bye bye senyuman ramah……… 

Emang, meski tanpa diminta orang-orang sini akan dengan senang hati membantuku mengangkat koper yg berat itu, tp untuk senyum kayaknya kok lebih berat dibanding seluruh barang bawaanku.

Tapi akhirnya, di Koeln HBf aku ketemu juga sama satu orang cowok yang dengan senang hati membantu mengangkat koperku, juga mau senyum ramah denganku, ditambah dia sangat ramah karena mengajakku ngobrol sepanjang jalan. Bahkan dia dengan baik hati membawakan koperku sampe ke rumah. Guess who…… 

OK, barang dah ditaro, aku langsung berangkat ke kampus tuk mengurus adm. Hore…..Studierendenausweis-ku (Student Identity Card) bisa di validasi (setelah satu minggu sebelumnya aku dapat kabar, bakal exmatrikuliert alias DO dari sekolah karena telat menghadap pihak berwenang).

Wah, Studierendenausweis-ku yang baru gaya juga, pake foto. Jadi ga usah bawa-bawa ID card lain yg berfoto dunk.

The List

OK deh, gitu dulu cerita-ceritanya. After posting “My Beautiful Room”, ada 4 posting baru:

1. Eigenlicht…… Ich vermisse euch sehr (Actually, I miss you so much)
2. Pertanyaanku terjawab
3. Heboh……
4. Seminggu dah lewat, cepet banget

Karena panjang-panjang, bisa dicicil bacanya. Tapi jangan mepet menjelang hari ujian ya….. Ntar ga beres bacanya.

Cerita tentang Jogja, kutulis di Jogja, karena malas beres2 kamar tuk pindahan. Cerita perjalanan setelah dari Jogja, kutulis disela-sela buntunya ide tuk tulis big paper.

Yap, aku skg mau menyepi lagi. Bakal terisolasi lagi……….. sampe waktu yg tak dapat ditentukan.

Hope, next story di tulis dari Deutschland.

Seminggu dah lewat, cepet banget

Cerita di kost: Senin sore, 10 Desember lalu, aku kumpul sama temen2 kost, sambil makan kue & cerita sana sini sambil tunggu taxi yg bakal bawa aku ke stasiun.

Cerita di stasiun: 2 org yg baik hati bawakan barang2ku sampai ke atas kereta. Setelah mereka rapikan barang-barang tersebut, aku beri uang sesuai tarif. Mahal juga ya….. Ntar di Gambir, aku pake 1 orang aja deh, biar aku ikut bawa sebagian barangnya.

Sampe Gambir, Selasa pukul 5.30, aku tunggu papa & koko yg masih dalam perjalanan. Trus, setelah mereka tiba, kami tunggu lagi sebelum jalan cari sarapan & menunggu kedutaan buka. Jreng…jreng….. kami pengunjung pertama yang ada di ruang bawah bagian legalisasi dokumen. Nunggu lagi……., doi lagi siap-siap.

Dokumen pertama: transkrip nilai. Setelah tanya jawab sana sini, dia dengan lembut bilang: “Untuk kasus Anda ini, saya tidak bisa beri legalisir gratis karena Anda sudah dapat sekolahnya. Jadi harus bayar, Rp 280.000,-/set.”

Toew….. di map itu ada 5 set, mo pingsan deh. Untung lah tuk visa Cuma butuh 1 set aja, sisanya di kembalikan.

Dokumen kedua: Eh…., ga boleh kayak gini, bla…bla…bla….. Dia balikin deh tuh dokumen, kami harus ke bank mengganti bentuk tabungannya. Hiks…. Tapi masih untung, pihak bank bisa ditemui hari berikutnya.

Rabu, 12 Desember 2007, mengurus segala dokumen bank & langsung meluncur ke kedutaan. Eng ing eng………antrian panjang. Jam 12.00 – 13.00 mereka pause (istirahat siang), kami ga bisa keluar karena kalo dah keluar ga akan boleh masuk lagi karena orang boleh masuk sebelum jam 11.30. Hore……… di setrap! Kasian papa, jadi ikutan disetrap deh.

Setelah mereka istirahat, papa menandatangani surat sponsor. Fiuh….., penantian yang tak sia-sia. Meski jalan masih panjang, tapi at least 1 per satu urusan selesai.

Visa masih belum bisa diurus karena mereka minta surat dari fakultasku yang ada tanda tangan & cap. Hei…., surat yg ku print online itu ada verification number, masa ga cukup. Ya sudah lah, ikuti maunya mereka.

Kamis, setelah melihat kondisi, aku paksakan urus SIM. Yup, SIM aku mati dah lama. Dulu, kira-kira setahun lebih nyetir dari kantor ke pabrik, kadang PP Bandung-Bogor tanpa SIM. Sempat kena razia malam-malam, dengan kedipan mata, aku lolos, hehehehe. Tapi sekarang, aku dah sadar…., itu bukan sikap seorang warga negara yang baik, huex…., makanya aku urus SIM.

Sempat manyun kanan kiri karena aku bayar Rp 160.000,- di loket, tapi terima kwitansi Rp 75.000,-. Sisanya kemana ya???? Well, katanya udah total, jadi ga usah bayar-bayar lagi tuk tes ini itu & segala administrasinya. Sambil nunggu di foto yang lamanya seabad, aku sempat nguping orang-orang ngobrol. Kalo ikuti skema, total biaya ga akan sampe Rp 160.000,- juga. OK deh, aku ngerti, kenapa tadi aku ga di test nyetir, ga usah ikut ujian teori, dah included! Tapi kok mereka ga tanya dulu seh, apa aku mau yg all in atau yang pake test. Si bapak2 itu juga manyun, karena dia pangen di test. Gaya bener……….

Setengah hari Cuma buat itu. Sampe rumah, angel yg besar dah menanti tuk diajak main & siap menginap di rumah.

Jumat, aku diminta menggantikan tugas orang yang sedang berhalangan. Kayak apa aja, padahal cuma gantiin nyokap mengawasi 2 little angels di rumah kakakku. Sang kakak yang berbadan langsing tapi ga bisa diem, liatnya aja udah capek. Sang adik badannya beurat, angkat sebentar dah memble. Kalo dah mentok, tinggal teriak: Suster…… tolong! But I’m happy, mereka lucu banget.

Emang, jaga anak kecil capek, tapi bisa senyam senyum sendiri waktu liat tingkah mereka yang sering diluar dugaan. Badanku ga akan tambah kurus deh karena harus habiskan makanan mereka kalo ga habis. Emang aku juga sih yang sengaja ambil makanan lebih dari porsi makan mereka, supaya mereka makan banyak, hehehehe.

Sabtu, antar ortu ke rumah nenek, trus bareng dengan beberapa saudaraku pergi ke Vihara yang nun jauh disana. Karena papaku ga boleh terlalu capek, aku jadi supir tembak deh. Senang juga bisa tolongin mereka selama aku ada di rumah.

Sampe rumah jam 1 dini hari. Beres-beres, tidur……….

Minggu, bangun pagi-pagi, mau bawa dua gadis cilik itu pergi sekolah minggu di Vihara. Kali ini, bareng sama papa mama mereka. Waktu mau hubungi teman, baru sadar HPku ketinggalan di rumah. Wah, payah deh.

Bogor kota hujan angkot, macet disana sini. Cuma bisa bawa mereka maen sebentar, pulang rumah mandi & cabut lagi deh. Kali ini, aku yg ikut ortu ke Vihara. Kan tadi pagi aku ga ikut kebaktian, cuma temani si cilik itu.

Senin, aku diem di rumah, kerjain 1 more big paper. Harus selesai cepet neh!

Juga siap2in dokumen tuk besok apply visa.

Hari ini, Selasa, endlich, akhirnya, aku submit aplikasi visa. Wish me luck. Duh….., lama banget di kedutaan, daku peserta terakhir yg keluar dari sana, ampe sore bow. Pake disuruh isi soal2 essai dlm bahasa Jerman. Payeh deh, dah lupa2 gitu, mana pertanyaannya susah lage. Si ibu cantik orang jerman yg melayaniku aja kadang suka mikir sambil mengerutkan dahi, mikir maksud pertanyaannya apa. Yg penting, diterima dulu deh, ga ada dokumen yang kurang.

Next schedule: kerja di pabrik!!!!!!!!! Banyak kerjaan yang harus selesai dalam wkt 1/2 bulan. Bisa ga ya??????

Heboh……

Dengan malas, aku mulai mengepak barang hari minggu malam. Duh debu, duh ngepak barang……. Malas kali! Kira-kira jam 1 malam, aku baru ingat harus cek beberapa file. Baru aja aku pasang kabel extension, pret ada percikan api & lampu satu kost mati.

Kucari lilin & coba jalan turun di tengah gelap buat kasih tahu si bapak penjaga kost. Ternyata temanku dah hubungi dia via telp. Lantai 1 & 2 ga ada masalah, tinggal kamar2 di lantai ku yg masih gelap. Cuma nyala lampu di teras aja. Hiks…., ga ada lampu, ga bisa beres2. Tidur deh…….

Pagi hari, ku bercerita dengan satu orang teman kostku tentang kejadian tadi malam. Dia menatapku dengan mata bulat & berkata yg kira-kira begini: “Oh….., cie cie toh yang bikin lampu mati semalam? Hilang semua hasil ketikanku, aku harus ketik ulang semua ini. Sebentar mau dikumpul. Aku tidur menjelang jam 4 pagi. Untung saja ini hari terakhir cie cie di kost jadi kumaafkan, kalau tidak, sudah kusuruh cie cie ketikin aku punya tugas.”

Ups……. Liat muka dia yg lucu, ½ kasihan, ½ nya lagi pengen ketawa. Mau juga sih bantuin dia ngetik, karena aku ada andil bikin dia kacau balau gitu. Tapi apa boleh baut, aku baru beres 1 koper neh, ½ kamar masih terbengkalai, hidungku dah meler & badan lemes karena alergi. Aku harus selesai mengepak barang sebelum sore karena masih harus ke kampus pamitan sama orang-orang di perpus & fakultas di UGM.